Bolehkah Dokter Berdemo Mogok?


A/N: Saat menjalani blok humaniora, saya sebagai mahasiswa fakultas kedokteran mempelajari banyak hal, termasuk etika biomedis. Saya bersama mahasiswa lain berdiskusi mengenai masalah demo mogok dokter ini dalam salah satu pertemuan kami. Dan ini hanya merupakan refleksi pribadi saya, dan tidak mencerminkan pandangan mahasiswa kedokteran ataupun dokter secara keseluruhan. Saya hanya ingin berbagi pandangan dan menyampaikan opini saya mengenai kasus ini. Semoga dapat menambah wawasan anda yang membacanya dan terima kasih :)

Tahun 2013, masyarakat dan dunia kesehatan kembali digemparkan dengan berita seorang chief resident (calon dokter sepsialis yang sedang menjalani pendidikan tahun terakhir) bernama dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani beserta kedua rekannya, yaitu dr. Hendi Siagian, dan dr. Hendry Simanjuntak, yang divonis 10 bulan penjara oleh Mahkamah Agung. Dokter Ayu dan kedua rekannya dilaporkan atas tuduhan malpraktek bahkan dijerat dengan pasal pembunuhan berencana.

Peristiwa ini berawal dari tindakan sectio caesarea yang dilakukan ketiga dokter tersebut terhadap Julia Fransiska Makatey yang akan segera melahirkan di Rumah Sakit R.D. Kandou Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, pada 10 April 2010. Saat itu, dr. Ayu bersama kedua rekannya sedang menjalani masa pendidikannya sebagai calon dokter spesialis Obstetri Ginekologi atau dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Fransiska yang direncanakan untuk menjalani persalinan normal akhirnya terpaksa melakukan sectio caesarea karena terjadi fetal distress (tanda pada ibu hamil baik sebelum atau selama persalinan yang menandakan kemungkinan kondisi janin yang tidak baik) sehingga harus segera dilakukan tindakan medis darurat yaitu operasi. Bayi dalam kandungan pun berhasil diselamatkan namun sayang nyawa Fransiska gagal diselamatkan karena dirinya mengalami emboli. Emboli adalah peristiwa masuknya udara ke dalam pembuluh vena yang dapat menyebabkan tersumbatnya arteri sehingga dapat berujung kematian. Walaupun merupakan salah satu risiko pada sectio caesarea, fenomena emboli udara ini sebenarnya sangat jarang terjadi dan sangat sulit diprediksi. Kemungkinan terjadinya emboli pada ibu melahirkan hanya 3 persen, dengan persentase kesembuhannya hanya 10 persen. Menghadapi hal ini, dokter Ayu dan timnya segera mengambil tindakan. Suntikan steroid diberikan untuk menanggulangi peradangan. Mereka juga berupaya mempertahankan oksigenisasi dengan memasang alat bantu yang disebut ventilator. Sayangnya nyawa pasien tidak dapat tertolong.

Sebagai seorang dokter yang hanya ingin menyelamatkan nyawa pasien dan bayi dalam kandungannya yang sedang dalam kondisi kritis, mendapatkan hukuman penjara dengan tuduhan pembunuhan sungguh sangat ironis. Tindakan medis berisiko dalam keadaan darurat yang dilakukannya berubah menjadi malapetaka. Hal inilah yang memicu reaksi keras dari para dokter. Muncul pandangan bahwa terjadi kriminalisasi terhadap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang tenaga medis oleh pihak kehakiman, yaitu Mahkamah Agung dalam kasus ini. Dokter pun tidak berdiam diri begitu saja. Rabu, 27 November 2013 dilaksanakan aksi solidaritas dari ribuan dokter yang melakukan longmarch dari Tugu Proklamasi, Bunderan Hotel Indonesia, menuju kantor Mahkamah Agung. Aksi ini merupakan suatu aksi solidaritas terhadap sesama rekan dokter. Mereka mengklaim putusan Mahkamah Agung yang memvonis 10 bulan penjara tiga rekan mereka merupakan bentuk kriminalisasi terhadap profesi kedokteran. Selama aksi ini berlangsung, para dokter memang tidak melayani pasien selama beberapa jam, namun tetap memastikan bahwa unit gawat darurat tetap ditangani.

Aksi ini menimbulkan banyak reaksi, baik pro maupun kontra. tindakan ini juga dianggap perlu, demi kelangsungan profesi dokter di masa yang akan datang dan jaminan terhadap keselamatannya. Namun di lain pihak, ada yang menyatakan bahwa dokter bertindak egois, tidak memperhatikan para pasien. Bahkan menyamakan profesi dokter dengan buruh yang seringkali melakukan demo mogok. Dalam hal ini, dipertanyakan apakah pantas bagi para dokter untuk melakukan tindakan medis. Untuk menilai aksi demo mogok yang dilakukan oleh para dokter ini, dapat digunakan beberapa pendekatan etis terhadapnya. Ada lima teori etika yang dapat digunakan, yaitu teori keutamaan, teori hukum kodrat, utilitarianisme, deontologi dan teori hak.

Berdasarkan teori keutamaan, berlaku jujur, sabar, murah hati, atau adil sudah menjadi second nature bagi seseorang yang berkeutamaan. Menurut pandangan ini, bertindak jujur, sabar, murah hati, adil, dan sebagainya adalah yang utama. Menelaah peristiwa ini berdasarkan teori keutamaan, para dokter hanya menginginkan keadilan bagi profesi mereka. Profesi kedokteran adalah sebuah profesi yang sangat rentan. Dokter tidak dapat memastikan kesembuhan atau keselamatan pasien. Dokter hanya mampu memastikan bahwa dirinya akan melakukan yang terbaik dalam mengupayakan kesehatan pasien. Jika dalam kasus emergency seorang dokter sudah melakukan yang terbaik, berupaya sekuat tenaga untuk menyelamatkan pasien tetapi tetap saja tidak mampu menyelamatkan nyawanya, apalah daya yang dimilikinya. Kehidupan seseorang tidak ditentukan berdasarkan ilmu kedokteran. Namun bila kegagalan dalam menyelamatkan pasien ini dianggap sebagai tindak kriminal maka tepat bila dokter menuntut keadilan. Demo yang dilakukan oleh para dokter ini memang bertujuan untuk menuntut keadilan bagi profesi yang mereka jalani. Karena seringkali terjadi kesalahpahaman tentang tindakan medis berisiko yang kemudian dianggap sebagai malpraktek dan berujung pada hukuman penjara. Tentu saja hal ini tidak adil. Banyak prosedur-prosedur dan etika-etika medis yang perlu dipertimbangkan sebelum dapat menyatakan bahwa memang seorang dokter melakukan malpraktek atau tidak, dan hal ini seringkali tidak dipertimbangkan dalam ranah hukum. Oleh karena itu, para dokter di bawah naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersepakat untuk menuntut keadilan dengan cara demo mogok yang dilakukan atas reaksi terhadap kasus dokter Ayu tersebut.

Berdasarkan kodratnya sebagai seorang manusia, setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang adil. Karena secara kodrati manusia harus diperlakukan secara adil, tanpa ada diskriminasi. Begitupun dengan seorang dokter. Dirinya harus diperlakukan secara adil dalam menjalani profesinya. Tidak bisa begitu saja dikriminalisasi.

Mengikuti pandangan yang pertama kali dikembangkan oleh dua filsuf Inggris yaitu Jeremy Bentham dan John Stuart Mill, maka tingkah laku bersifat etis bila membawa paling banyak manfaat bagi masyarakat. Dalam paham utilitarianisme ini prinsip berbuat baik lebih ditekankan dibandingkan dengan prinsip tidak merugikan. Tingkah laku etis memaksimalkan manfaat atau membuat manfaat menjadi sebesar mungkin, sehingga melebihi kerugian atau keadaan negatif yang selalu pasti ada juga di dunia ini. Akibatnya, utilitarianisme tidak menilai sesuatu sebagai baik atau buruk secara moral karena sifatnya atau kodratnya, melainkan semata-mata karena konsekuensinya, yaitu membawa kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, ya atau tidak. Berarti perbuatan adalah baik, bila membawa kesenangan paling besar bagi paling banyak orang. Para utilitarian sampai pada prinsip kegunaan yang berbunyi: kebahagiaan paling besar untuk jumlah orang paling besar.

Tindakan kriminalisasi yang dilakukan terhadap profesi dokter ini dapat membawa pengaruh buruk dalam dunia kedokteran, yaitu timbulnya defensive medicine dimana tenaga medis akan berusaha untuk melindungi dirinya dari kemungkinan terburuk yang ada. Dua cara yang dapat dilakukan dalam praktek defensive medicine ini adalah secara aktif dan pasif. Defensive medicine aktif dilakukan dengan cara selalu melakukan tindakan-tindakan prosedural untuk memastikan bahwa akan selalu ada bukti tentang kondisi pasien yang sebenarnya walaupun hal itu tidak perlu dilakukan, misalnya saja dengan melakukan pengecekan jantung hanya untuk operasi kecil, seperti operasi pengangkatan kutil. Sedangkan pada mekanisme defensive medicine pasif, dokter akan cenderung merujuk pasien bila dia merasa bahwa kondisi pasien membutuhkan tindakan medis yang berisiko. Bila hal ini terjadi maka dokter akan cenderung melarikan dirinya dari tugas untuk merawat dan menolong pasien, bahkan bisa juga terjadi dalam keadaan gawat darurat. Bila praktek defensive medicine yang muncul akibat ketakutan para dokter ini semakin berkembang luas, tentu saja pasien lah yang mengalami kerugian yang semakin besar. Sudah jelas bahwa pasien akan mengalami kerugian finansial dan bisa saja mereka menjadi terlambat diselamatkan, terutama dalam keadaan gawat darurat.

Sehingga tindakan solidaritas para dokter yang mengupayakan agar keadilan ditegakkan demi menghilangkan bayang-bayang ancaman yang membuat dokter waswas dan melarikan diri ke arah defensive medicine sesungguhnya sangat bermanfaat bagi masyarakat. Memang terlihat kesan bahwa masyarakat mengalami kerugian akibat tindakan ini. Namun dibalik kerugian ini terdapat kebaikan atau keuntungan yang jauh lebih besar di dalamnya. Bila dokter sudah memiliki jaminan terhadap keselamatan dirinya dan meninggalkan praktek defensive medicine tersebut, tentu saja masyarakat lah yang akan diuntungkan. Tindak pemeriksaan yang kurang penting akan ditinggalkan karena sesunggyhnya dapat merugikan finansial pasien. Dokter pun akan segera menangani pasien yang berada dalam jangkauan kompetensinya tanpa perlu berpikir untuk merujuknya hanya karena takut terhadap tuntutan yang mungkin diterimanya. Terutama hal ini akan sangat berdampak pada pengambilan keputusan dalam mengambil tindakan medis berisiko dalam kondisi gawat darurat. Nyawa pasien akan bisa lebih banyak diselamatkan bila dokter berani melakukan tindakan. Karena tanpa tindakan apapun tentu saja pasien juga tidak akan bisa diselamatkan. Dengan demikian, aksi demo ini bukan hanya memberikan keuntungan bagi pihak dokter semata, masyarakat pun akan menjadi pihak terbesar yang akan diuntungkan.

Utilitarianisme juga bisa dikatakan sebagai sistem yang bersifat teleologis. Artinya berorientasi pada tujuan perbuatan. Selama tujuan itu adalah baik maka tindakan dapat dianggap baik. Dalam sistem ini, tujuan menghalalkan cara. Demo mogok yang dilakukan oleh dokter ini memang memiliki tujuan jangka panjang. Jika tidak ada yang berani bertindak untuk memperjuangkannya, maka tujuan ini tidak akan pernah tercapai. Tujuan utamanya adalah agar profesi dokter tidak dikriminalisasi. Dilihat dari sudut pandang profesi dokter, dokter sangat membutuhkan kepastian dalam ranah hukum. Bila tidak ada kepastian dan perlindungan bagi profesi dokter maka akan selalu timbul ketakutan dan kewaspadaan yang berlebih. Hal ini tidak hanya akan berdampak pada praktek defensive medicine seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya. Ketidakpastian pada profesi dokter juga bisa menyebabkan berkurangnya calon-calon dokter masa depan Indonesia. Orang-orang akan menjadi takut untuk mengambil pendidikan di bidang kedokteran di Indonesia karena ancaman hukuman pidana yang bisa menimpanya. Jika demikian maka Indonesia pun bisa menjadi kekurangan tenaga medis yaitu dokter. Padahal saat ini pun jumlah dokter di Indonesia masih belum memadai. Masih banyak pasien yang tidak mendapatkan penanganan dari dokter karena jumlah tenaga medis yang terbatas. Bayangkan bila di masa yang akan datang jumlah dokter semakin sedikit. Bagaimana sistem layanan kesehatan dapat memenuhi tuntutan pasien akan dokter? Oleh karena itu, keadilan harus diperjuangkan sehingga dapat ditegakkan.

Sedangkan teori deontologi mengedepankan mengenai kewajiban seseorang. Menurut pandangan deontologi, perbuatan adalah baik secara moral jika dilakukan karena kewajiban dan perbuatan adalah jelek secara moral jika dilakukan apa yang dilarang. Kewajiban seorang dokter adalah menolong pasien. Menolong pasien adalah tanggung jawab moral seorang dokter secara hakiki. Memang menurut pandangan deontologi, dokter berarti melalaikan kewajibannya untuk melayani pasien karena mogok bekerja. Jika dilihat dari pandangan ini memang pasien menjadi dirugikan. Namun dokter juga tidak sepenuhnya melalaikan kewajibannya untuk menolong pasien. IDI juga sudah memastikan bahwa di setiap unit gawat darurat tetap ada dokter yang berjaga selama demo berlangsung sehingga pasien yang dalam keadaan gawat darurat tetap dapat ditangani dan diselamatkan.

Teori terakhir yang dapat digunakan untuk menilai peristiwa ini adalah teori hak. Hak adalah keadilan alamiah, karena manusia memiliki hak ini menurut kodratnya sejak ia lahir. Menurut Locke, manusia mempunya tiga “hak kodrat”, yaitu life, freedom, and property (kehidupan, kebebasan dan kepemilikan). Dokter hanya menginginkan kebebasan dari tindak kriminalisasi, agar apa yang sudah dialami oleh dokter Ayu dan kedua rekannya tidak lagi menimpa rekan-rekan sejawat mereka. Di RS Fatmawati, dokter-dokter yang tidak melakukan demo pun menunjukkan dukungannya terhadap rekan sejawat mereka dengan berpakaian hitam dan memasang spanduk yang berbunyi “Izinkan kami sehari menjadi manusia biasa. Kami sejenak mengganti baju putih menjadi baju hitam sebagai bukti solidaritas menentang kriminalisasi dokter.”

Menyampaikan pendapat pun merupakan hak setiap orang, bahkan negara menjaminnya dalam UUD 1945 pasal28 yang berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Hal ini diatur dalam UU RI No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum pasal 2 yang berbunyi setiap warga negara, secara perseorangan atau kelompok, bebas menyampaikan pendapat sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga berdemo adalah hak seseorang dalam menyampaikan aspirasinya ataupun kekecewaannya terhadap pihak yang berwenang.

Dengan demikian, setelah menilai kasus dokter mogok ini kita telah mendapatkan berbagai macam argumentasi terhadapnya. Melalui berbagai pandangan ini, saya telah menetapkan pendirian saya pada kasus ini. Memang dalam sebuah kasus etis, tidak ada hitam atau putih, benar atau tidak benar, semua permasalahan masih selalu ada dalam batas abu-abu. Namun segala sesuatunya kembali lagi kepada hati nurani manusia, karena dari situlah segala perilaku moral berasal. Bagaimana kita melihat permasalahan dengan menggunakan hati nurani kita. Itulah yang terpenting.

Menurut pandangan saya, boleh saja bagi para dokter untuk berdemo. Hal itu merupakan salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi, kekecewaaan mereka. Berdemo ini memang bukanlah cara yang harus pertama-tama dilakukan. Sebelumnya memang dokter sudah mencoba menyuarakan aspirasinya melalui berbagai aksi solidaritas, seperti mengenakan pita hitam dan berdiskusi dengan keluarga korban. Namun, upaya tersebut juga belum membuahkan hasil, maka dilakukanlah cara terakhir yaitu berdemo. Demo ini juga tidak dilaksanakan begitu saja. IDI juga telah memastikan bahwa tidak ada pasien yang harus segera mendapatkan pertolongan yang terabaikan. Mereka semua harus tetap dilayani. Demo dokter ini juga berlangsung dengan damai dan tertib. Tidak ada peraturan yang dilanggar oleh dilaksanakannya aksi ini.

Demo yang dilakukan para dokter ini juga dipahami sebagai aksi solidaritas terhadap rekan sejawat. Seperti yang termasuk di dalam sumpah dokter bahwa seorang dokter harus menganggap rekan sejawatnya sebagai seorang saudara. Maka sangat dimaklumi, bahwa tidak hanya segelintir dokter saja yang terlibat di dalamnya. Karena bagi seorang dokter, rekan dokter yang lain adalah saudara mereka, walaupun mereka belum pernah bertemu sekalipun.

Mempertimbangkan dari sisi tujuan jangka panjangnya, saya berpendapat bahwa aksi ini baik dan penting untuk dilaksanakan. Karena bila tindakan kriminalisasi ini sudah ditindaklanjuti, bukan hanya dokter saja yang akan merasakan manfaatnya, tetapi masyarakat Indonesia secara luas pula.

Referensi:

  1. Bertens, K. Etika. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 2013. Chapter 7, Beberapa sistem filsafat moral; p.181-204.
  2. Bertens, K. Etika biomedis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 2011. Chapter 1, Memperkenalkan Etika sebagai pemikiran moral; p.9-30.
  3. Dorland’s Illustrated Medical Dictionary. 32nd ed. Philadelphia: Elsevier Saunders ; 2013. Aeroembolism; p.606.
  4. Kusumadewi, A. Tanjung, E. Putri Laras, A. Kasus dr Ayu, ini kronologi dokter vs mahkamah agung [internet]. 2013 [updated 2013 Nov 28; cited 2014 Jan 24]. Available from: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/462229-kasus-dr-ayu–ini-kronologi-dokter-vs-mahkamah-agung
  5. Roszandi, D. Tak mogok, dokter di RS Fatmawati kenakan baju hitam [Internet]. 2013 [updated 2013 Nov 27; cited 2014 Jan 24]. Available from: http://www.tempo.co/read/news/2013/11/27/083532877/Tak-Mogok-Dokter-di-RS-Fatmawati-Kenakan-Baju-Hitam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: